Home » , » Ventilasi untuk Mengatur Sirkulasi Udara Rumah

Ventilasi untuk Mengatur Sirkulasi Udara Rumah

Posted by Dewa Ayu Erniathi on Sunday, March 2, 2014 | 11:18 PM

Sirkulasi atau perputaran udara di dalam rumah sangat penting bagi kesehatan penghuninya. Dalam desain bangunan kita mengenal sistem yang mengatur sirkulasi udara ini sebagai ventilasi. Ventilasi yang baik pada prinsipnya membuat pertukaran udara alami secara lancar: mengalirkan udara dari luar ke dalam rumah, menyebarnya ke seluruh ruangan, kemudian mengalirkannya kembali keluar rumah. Aliran udara dari luar diperoleh melalui celah-celah atap, kisi-kisi, lubang ventilasi, dan lain-lain, maupun pada bukaan rumah seperti jendela dan pintu.

Tujuan Penerapan Ventilasi Udara

Tujuan penerapan sistem ventilasi udara adalah memanen oksigen sebagai kebutuhan utama pernafasan manusia. Untuk itu, faktor kapasitas penghuni rumah yang berhubungan dengan kebutuhan oksigennya harus dipertimbangkan agar sistem ventilasi ini dapat berfungsi secara efektif. Selain itu, ventilasi juga untuk menghindari terjadinya kelembapan yang berlebihan, panas, bakteri, serta polutan udara seperti bau tidak sedap, asap beracun (karbondioksida), dan debu. Ventilasi yang kurang baik membuat hal-hal negatif yang dihindari tersebut terakumulasi di dalam rumah sehingga mengakibatkan penghuni merasa lesu, bahkan sering sakit. Selain itu, hal-hal negatif tersebut juga merusak perabotan rumah tangga di dalam rumah.

Prinsip Sirkulasi Udara Alami

Pada prinsipnya udara mengalir dari daerah yang bertekanan tinggi (dingin) mengalir ke daerah yang bertekanan rendah (panas). Udara juga memuai bila dipanaskan, sehingga bergerak ke atas. Ventilasi memanipulasi keadaan bagian rumah sesuai prinsip tersebut sehingga aliran udara lancar. Berdasarkan prinsip pemanfaatan suhu ini, ada dua cara:
  • ventilasi horisontal (mengalirkan udara, secara mendatar) 
  • ventilasi vertikal (dari bawah yang dibuat dingin ke atas yang lebih panas)
Ventilasi satu sisi vs cross ventilation
Ventilasi satu sisi vs cross ventilation (gambar: Elizabeth Gatlin)

Penempatan lubang ventilasi harus disesuaikan dengan arah angin masuknya. Penempatan jalan masuk udara pada salah satu sisi saja atau yang tidak berhadapan memungkinkan timbulnya kantung udara. Ventilasi yang bagus adalah yang berlawanan arah (cross ventilation), yaitu ruangan yang mempunyai akses masuk udara (inlet) di satu sisi serta lubang keluarnya (outlet) di sisi yang berhadapan dengan masuknya. Agar udara menyebar terlebih dahulu dalam ruangan tersebut sebelum keluar, perlu dilakukan beberapa manipulasi seperti tirai atau tembok sirip penahan hembusan atau aliran angin (deflector, wing), penempatan inlet dan outlet tidak sejajar/lurus, atau inlet lebih besar/lebih tinggi dari outlet dan sebaliknya.

Besar lubang ventilasi (termasuk bukaan seperti jendela dan pintu) yang dianggap mencukupi kapasitas adalah sepertiga dari luas lantai ruangan tersebut.

Ketidaknyamanan Ruang

Kenyamanan dalam satu ruangan yang berhubungan dengan ventilasi bisa disebabkan beberapa hal berikut ini:

  • aliran udara dari lubang ventilasi terlalu deras (solusinya bisa dipasang deflector/tirai penahan hembusan)
  • Posisi penghuni ruangan terlalu dekat dengan lubang ventilasi (solusinya mempertimbangkan tinggi ventilasi dan jarak dengan tempat penghuninya biasa berada pada ruang tersebt) 
  • Benda-benda yang ada dalam ruangan memiliki perbedaan suhu yang tajam (sebaiknya penempatan seperti ini dihindari)
  • Serangga dan debu masuk lewat lubang ventilasi (solusinya lubang diberi kawat kasa halus sebagai penyaring)

Silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
0 Comments
0 Comments
Comments

Leave your comment

Post a Comment

Translate This Page into