Home » , , , , » Desain Interior Rumah Minimalis Gaya Jepang

Desain Interior Rumah Minimalis Gaya Jepang

Posted by Dewa Ayu Erniathi on Monday, March 17, 2014 | 9:17 PM

Rumah minimalis sebenarnya bisa dibuat dengan menggunakan berbagai macam gaya. Salah satu yang cukup menarik untuk dipertimbangkan adalah gaya arsitektur Jepang. Dari gaya inilah ide desain minimalis kemudian berkembang. Ciri minimalis gaya interior yang satu ini sangat menonjol terutama penggunaan furniture yang menjunjung tinggi nilai kesederhanaan alamiah dan efisiensi. 

Material Kayu sebagai Bahan Utama Bangunan

Arsitektur berbahan kayu yang disebut kansai ini dipengaruhi faktor geografis yang ada di Jepang. Selain kayu melimpah, Jepang memiliki musim panas yang lama, berhawa panas, dan lembap. Bahan kayu dipilih karena dapat menjaga suhu tetap sejuk di musim panas, dan tetap hangat di musim dingin. Di samping itu, kayu karena lebih fleksibel dan mudah dibangun kembali jika mengalami kerusakan akibat bencana alam yang sering terjadi di Jepang, yaitu gempa, gunung meletus, dan angin topan.


Penggunaan kayu dengan desain minimalis sendiri banyak dipengaruhi oleh arsitektur kuil Buddha yang dibawa dan didukung oleh pihak kerajaan di abad ke-6. Ide minimalis juga dipengaruhi oleh Taoisme dan arsitektur Buddha Zen yang memandang bahan alami menjaga kesederhanaan agar tetap menyatu dengan alam.

Ciri khas lain dari desain gaya Jepang adalah ekspos struktur bangunan sebagai unsur utama desain. Penonjolan ini dilakukan untuk mengekspresikan keindahan bentuk dan pola estetika desain tradisional yang berdasarkan komposisi geometris dan ruang yang terbuka.

Desain rumah minimalis gaya Jepang dengan sentuhan modern
Kayu sebagai bahan utama arsitektur Jepang dengan sentuhan modern seperti TV LCD

Partisi Geser Berbahan Kertas dan Kayu

Pada awalnya desain minimalis Jepang bersifat terbuka tanpa sekat. Lama-kelamaan desain ini berkembang mempertimbangkan fungsi area untuk makan, tidur, berpakaian, dan sebagainya. Kemudian muncul satu lagi khas desain gaya ini, yaitu panel yang dibuat dari bahan kertas berbingkai kayu yang dapat digeser dengan mudah.

Ide penggunaan panel geser kertas dan kayu yang disebut fusuma dan shoji ini mungkin bisa juga ditelusuri dari kebutuhan masyarakat Jepang akan suatu arsitektur substansi dinding yang ringan sehingga mudah digeser dan tipis sehingga mudah ditembus untuk dijadikan jalan keluar sewaktu-waktu ada gempa mendadak untuk meminimalkan kecelakaan.

Fusuma dan shoji sama-sama panel geser kertas. Ukurannya pun sama seperti halnya pintu. Lalu apa beda fusuma dan shoji?

Kertas yang dipakai fusuma lebih tebal dan buram. Kertas fusuma tidak tembus cahaya atau opaque, dan diaplikasikan pada kedua sisi bidangnya (double). Fusuma biasanya digunakan sebagai pintu oshi-ire, lemari kloset tempat penyimpan kasur futon, kasur kapas empuk yang mudah digulung dan digelar khas Jepang. Fusuma juga difungsikan sebagai partisi antara dua ruangan, yang dirasa tidak menginginkan cahaya satu ruangan tembus ke ruangan satunya. Karena fungsinya sebagai partisi antar-ruang dan tidak untuk menembuskan cahaya, biasanya fusuma ini dihiasi pola-pola tertentu atau lukisan cat air tentang pemandangan alam atau binatang dengan demikian sekaligus berfungsi dekoratif.

Panel shoji terbuat dari kertas tipis berwarna putih (rice paper), yang tembus cahaya namun tidak tembus pandang dan biasanya diaplikasikan pada satu sisi bidangnya saja atau single. Fungsi shoji mirip dengan blind, jika dipasang membuat pandangan terhalang, tapi cahaya masih bisa masuk. Karena fungsinya untuk menangkap cahaya, shoji sering dipakai sebagai panel partisi interior dengan luar rumah. Shoji juga berfungsi sangat baik sebagai pemecah angin atau windbreak. Karena saking tipisnya, biasanya frame shoji dibuat lebih kerap, tiap lima hingga sepuluh sentimeter (lihat perbedaannya di bawah).

Panel fusuma dan shoji pada ruang tamu
Tengah panel fusuma dengan lukisan cat air artistik dan
sebelah kanan shoji yang berbingkai kecil (foto: en accessories)

Duduk Seiza di Tatami dan Zabuton

Dalam arsitektur tradisionalnya, lantai di ruangan-ruangan dalam rumah dirancang memiliki tatami. Tatami adalah alas lantai tradisional Jepang berupa tikar empuk berbahan jerami padi. Sama halnya dengan kayu, tatami ini merupakan penjaga suhu yang baik: hangat saat musim dingin dan sejuk saat musim panas. Tatami dipergunakan untuk relaks dengan duduk bersimpuh khas Jepang yang dikenal dengan sebutan seiza. Untuk mendapatkan kenyamanan seiza, kita juga bisa menggunakan zabuton, yaitu bantalan bersimpuh.



Pada saat ini, tentu saja desain minimalis gaya Jepang sudah dikombinasikan dengan sentuhan modern untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Namun demikian, penggunaan perabotan modern modern sedapat mungkin tetap berprinsip pada efisiensi, misalnya penggunaan televisi LCD yang hemat listrik, atau pemanfaatan listrik tenaga surya yang dipasang di atas atap rumah. Untuk menanggulangi kelemahan kayu yaitu rentan terhadap kebakaran, dilakukan finishing dengan pelapis kayu tahan-api sehingga keawetan terjaga demi efisiensi energi. Dengan kesederhanaan alami dan efisiensinya, desain gaya Jepang telah banyak mempengaruhi gaya desain minimalis modern yang kini tengah populer, termasuk di Barat.
Silakan berbagi tulisan ini ke teman Anda dengan tombol Google+, Twitter, atau Facebook di bawah ini.
0 Comments
0 Comments
Comments

Leave your comment

Post a Comment

Translate This Page into